BNI untuk Penyelamatan Orangutan

Saya percaya semua orang bisa menolong orangutan. Ya, saya memang percaya. Orang dengan background apapun bisa berkontribusi untuk penyelamatan orangutan. Latar belakang saya Sastra Inggris. Dan latar belakang teman-teman yang lain ada yang hukum, komunikasi, teknik, bahkan masih bersekolah di sekolah menengah. Rupanya latar belakang apapun tidak membatasi siapa menolong siapa. Justru saya melihat adanya ketulusan.

Tahun 2012, saya dan teman-teman Orangufriends, relawan untuk orangutan, di bawah organisasi non-profit Centre for Orangutan Protection (COP) ingin melakukan public awareness tentang orangutan. Di tahun yang sama ada kebutuhan pengembangan kandang terbuka bagi beberapa orangutan di Samarinda yang masih di dalam kandang tertutup. Agar mereka lebih bebas bergerak meski di kebun binatang, orangutan harus difasilitasi dengan kandang terbuka dan beragam pengkayaan di dalamnya. Sehingga membutuhkan banyak dana untuk itu. Juga kegiatan lain untuk merescue orangutan yang masih dalam peliharaan penduduk.

Orangufriends untuk Sound for Orangutan

Orangufriends untuk Sound for Orangutan

Perjuangan kecil pun dimulai. Kami membentuk tim dan memberi nama kegiatan tersebut dengan nama Sound for Orangutan. Suara untuk orangutan. Suara kami hadirkan melalui musik yang diharapkan para penggemar musik dapat menerima kampanye yang benar tentang orangutan.

Ternyata tidak semudah yang kami bayangkan. Kami hanya bermodal semangat. Tidak ada uang yang dapat kami tawarkan pada para pengisi acara selain meminta ketulusan mereka mengisi acara. Tapi rupanya, semangat menolong orangutan juga menular ke para pengisi acara. Kami berhasil mengundang Navicula, White Shoes and the Couples Company, Efek Rumah Kaca, Monkey Boots, dan beberapa band indie lain bersemangat tampil di Sound for Orangutan pertama ini.

Tapi bagaimana kami menyelenggarakan acaranya, menyewa tempat, sound system, transportasi untuk pengisi acara, makanan untuk relawan? Kami pun mulai menyebar proposal ke banyak pihak. Hari berlalu belum ada pihak yang menjawab. Setelah menunggu selama sebulan, akhirnya Bank Negara Indonesia (BNI) menjawab proposal kami. CSR BNI mendonasikan sebesar 60 juta rupiah untuk kegiatan public awareness “Sound for Orangutan” ini. Alhamdulillah!

Monkey Boots on Stage!

Monkey Boots on Stage!

Acara pun berhasil kami selenggarakan berkat bantuan CSR BNI tersebut. Kami selenggarakan di Rolling Stone Café, Jakarta, pada 30 September 2012. Dengan acara ini, kami berhasil menambah jumlah relawan yang tertarik dalam penyelamatan orangutan. Kami juga berhasil mengumpulkan dana dari penjualan tiket, donasi dan penjualan merchandise sebesar 26.335.000.-. Semua dana kami sumbangkan ke COP.

Dari dana ini, COP bisa membantu orangutan Rocky dan Imun yang menjadi peliharaan ilegal masyarakat di Kalimantan Timur untuk dievakuasi. Saat itu, saya dan tim di Kalimantan yang membantu evakuasi Rocky dan Imun.

Rocky diselamatkan COP

Rocky diselamatkan COP

Ah iya, saya jadi ingat Rocky. Waktu kami datang, Rocky hanya diletakkan di atas kayu seperti burung. Kayu tersebut disangga dengan kayu berduri sehingga Rocky takut untuk turun. Usianya masih 1,5 tahun dan masih membutuhkan kehangatan air susu ibu dan pelukan hangat ibu. Tubuh Rocky sangat kurus dan perutnya kembung. Pemilik Rocky memberinya air es sehingga perutnya kembung.

Saya sendiri yang menggendong Rocky dalam perjalanan menuju Samarinda dari Muara Wahau yang berjarak sekitar 8 jam perjalanan dengan lubang sana sini. Saya ingat di dalam perjalanan, Rocky pulas di pelukan saya. Dan karena perutnya kembung, seringkali dia buang air besar. Baju saya tidak karuan baunya. Tapi demi Rocky yang hangat, dia tetap saya peluk. Kami pun menjaga Rocky agar tidak dehidrasi dengan selalu memberinya susu hangat.

Rocky telah selamat, dan berada di sebuah pusat rehabilitasi untuk melalui training menjadi orangutan liar beberapa tahun lagi. Semoga dia baik-baik saja dan berhasil melaluinya. Oiya, orangutan yang telah menjadi peliharaan manusia biasanya menjadi jinak sehingga harus ditraining menjadi orangutan liar kembali. Agar dia bisa bertahan di hutan tanpa bantuan manusia.

Begitu juga Imun, dia telah selamat. Dia lebih besar daripada Rocky. Pemiliknya menempatkannya di tengah hutan karet, di kandang kecil bahkan dia tidak bisa berdiri. Kami merescuenya dini hari. Kabut dingin kebun karet dan bulan bundar menemani kami. Dengan penerangan seadanya kami pun berhasil merescue Imun.

Dua orangutan yang selamat dari kepemilikan ilegal berkat bantuan dari pihak-pihak yang membantu Sound for Orangutan, terutama BNI.

Tidak hanya itu saja, dengan dana yang dihasilkan dari Sound for Orangutan ini pula, COP bisa mempercepat pembuatan kandang terbuka yang sedang dikerjakan di Kebun Raya Samarinda. Setidaknya akan membuat 4 orangutan lain senang tidak lagi di dalam kandang tertutup.

Dari acara kecil, kontribusi BNI, pengisi acara, dan relawan, setidaknya 6 orangutan mendapatkan hidup layak. Saat ini, orangutan-orangutan di Kebun Raya Samarinda telah dipindahkan ke pusat rehabilitasi COP di Tanjung Redeb. Rocky masih ikut sekolah hutan, dan Imun telah ditangani BKSDA.

Saya hanya berharap, mereka semua bisa kembali ke hutan. Dan banyak pihak yang turun tangan untuk penyelamatan orangutan. (*)

Fian Khairunnisa, relawan orangutan dan ibu dari Tanaya Wikan Shamita

Happy Pumping with Spectra 9s

20150124_133033

Awalnya saya nggak tertarik menggunakan pompa asi elektrik, karena saya pikir pompa manual sudah bisa menyelesaikan semuanya. Tapi pakai Spectra 9 plus, saya langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.

BP itu cocok-cocokan dan nggak bisa dipaksakan. Begitu kata teman saya yang berpengalaman menggunakan berbagai macam BP. Saya sendiri masih newbi, coba-coba, karena saya pasti akan butuh BP jika mulai dapat pekerjaan baru nanti. Rencananya usia Wikan 6 bulan, saya baru cari pekerjaan lagi. Biar Wikan lulus dulu ASIX-nya. Mudah-mudahan pun bisa segera bekerja, karena saya kangen ada kertas menumpuk di atas meja saya. Loh malah jadi curhat.

Tapi berhubung harus tahu teknik perah memerah, Wikan usia 2 bulan saya pun mulai belajar memerah. Saya dilungsur BP manual model piston dari Medela. BP ini lumayan membantu, tetapi entah mengapa kalau memerah PD kanan saya, hasilnya sedikit (mentok 20ml) meski sudah LDR (let down reflex). Saya coba lagi pakai model manual punya Dr. Brown’s, hasilnya PD kanan saya tidak berhasil terperah meski sudah LDR. Continue reading

Menyusui, Awal Mula

Selama hamil, salah satu hal yang paling saya takutkan adalah tidak bisa memberikan ASI untuk bayi saya. Mengapa saya khawatir? Karena payudara (PD) saya kecil, bahkan ketika hamil pun tak tampak membesar. Saya jadi tambah khawatir ketika teman saya yang juga sedang hamil mulai keluar air susunya pada usia kehamilan 7 bulan. Saya jadi sedih sekali.

Kekhawatiran saya mulai berkurang ketika saya mendapat dukungan dari teman busui yang juga memiliki PD kecil dan dia bisa menyusui bayinya lebih dari cukup. Ditambah, ketika hamil usia 9 bulan, air susu pun mulai keluar dari puting saya ketika puting saya pencet. Senangnya bukan main!

Niat saya untuk menyusui eksklusif (sukur-sukur bisa menyusui sampai 2 tahun atau lebih) bertambah kuat. Ya, karena saya ingin yang terbaik untuk anak saya.

Namun, menyusui rupanya tak semudah yang saya bayangkan. Mungkin ibu-ibu lain juga pernah mengalaminya. Setetes air susu bagi saya sangat berarti. Di awal-awal kelahiran Wikan, air susu yang saya hasilkan sangat sedikit. Saya sempat down ketika Mama saya mengatakan bahwa dulu air susunya sampai muncrat-muncrat. Tapi saya tidak. Continue reading

Akhirnya Oven Tahun Ini!

Sewaktu di sekolah dasar, saya ikut mata pelajaran keterampilan. Saya suka sekali pelajaran ini karena diajarkan bermacam-macam dan nggak perlu mikir lama soal perkalian dan pembagian.

Salah satu pelajaran keterampilan yang saya suka adalah pelajaran memasak. Ketika dibagi tugas memasak, kelompok saya memutuskan memasak kue bolu. Semua perangkat membuat kue dari dapur Mama saya dibawa ke sekolah. SD saya dulu hanya berjarak tiga rumah saja, jadi nggak repot bawa baskom, mixer, oven, dan pernak penik memasak lainnya.

Kelompok kami membuat kue bolu terlezat. Meski agak gosong, tapi bolunya tidak bantat, lembut, dan rasa manisnya pas. Bolu kami langsung laris. Saya sangat senang sekali waktu itu, karena ternyata saya bisa masak kue bolu.

Resep bolu saya tanya Mama saya yang memang suka masak macam-macam kue. Kalau Hari Raya, saya suka membantu (baca: merecoki )Mama saya, kadang bantu pegang mixer (nggak punya mixer yang ada dudukannya, jadi harus dipegang), nge-mix-in semua bahan. Dan yang paling saya suka adalah menjilat sisa adonan kue dari baskom. Jorok tapi enak wek. Jadi mungkin dari situlah tanpa saya sadari bisa membuat kue bolu. Continue reading

Anak Perempuan Berpengetahuan dan Pencipta Perdamaian

Tanaya Wikan Shamita. Berarti anak perempuan (tanaya) berpengetahuan (wikan) dan pencipta perdamaian (shamita). Begitu kami sepakat memberi Bumbum nama itu. Nama itu kami ambil dari Bahasa Jawa Kuna dan Hindi.

Sejak Bumbum dalam perut, Ketut dan saya sangat ingin punya anak perempuan yang kemudian kami panggil Wikan. Kami suka nama itu. Dan diperkuat ketika main ke rumah mantan bos saya. Mereka baru saja punya bayi dan dengan bangga mengeluarkan Kamus Jawa Kuna karya PJ Zoetmulder dan SO Robson, karena nama anak mereka didapat dari sana. Saya yang memang ingin menamai anak saya dengan nama Jawa langsung saja mencari tahu makna kata “wikan” (di kamus dapat dilihat di wihikan).

20150107_230830

Continue reading

Pengalaman Melahirkan di RSIA Andhika

20150102_002656

Hello Buibu. Bagi yang penasaran pengalaman melahirkan di RSIA Andhika, Jagakarsa, berikut ini pengalaman saya melahirkan di sana.

Rabu, 22 Oktober, saya mulai mules-mules. Sudah dipesani Dokter Tagor berkali-kali kalau sudah mules-mules jangan khawatir dan panik karena masih panjang waktu persalinannya, bahkan kalau mau melahirkan di Papua pun bisa. Iya keleus, tapi ditolak sama penerbangan pastinya.

Maghrib saya cek saya sudah flek. Saya dan suami pun langsung ke Andhika. Perjalanan dari Ragunan ke Andhika lancar jaya, yang biasanya minta ampun macetnya karena pas jam orang pulang kantor. Di Andhika saya langsung dicek sama bidan, baru pembukaan satu setengah. Saya disuruh memilih: pulang atau stay. Saya pilih stay. Bok, di sini selalu penuh ruangan kelas satu sampai VIP. Jadi waktu itu tinggal satu ruangan kelas satu, langsung saja kami booking. Continue reading

Horas Andhika!

Saya mungkin berterima kasih atas keribetan BPJS, karenanya saya menemukan RSIA yang pas banget di hati, jarak rumah dan yang pasti di kantong dong.

Si bidan Marinir Cilandak mungkin nggak tega ngeliat saya yang melas-melas maksa melahirkan normal di Marinir Cilandak dan nggak boleh karena saya terdaftar pasien BPJS. Pasien BPJS HARUS melahirkan normal di Puskesmas, kalau mau sesar ya baru rumah sakit. Lalu si bidan memberikan opsi beberapa RSIA yang paling masuk akal jangkauannya dengan rumah (kontrakan) kami.

Kami pun mengecek dua RSIA, yaitu Aulia dan Andhika. Keduanya di Jagakarsa. Setelah menginterogasi petugas administrasi masing-masing RSIA, pilihan kami jatuh pada RSIA Andhika. Hurray! Mudah-mudahan ini RSIA terakhir mengingat saya sewaktu-waktu bisa mbrojol.

Untuk persalinan normal di Andhika bisa memilih dengan bidan atau obgyn. Biaya paling mahal kelas VIP persalinan normal dengan obgyn adalah Rp. 4.000.000, Continue reading